Kata orang bijak, dalam hidup ini yang pasti adalah ketidakpastian. Pun demikian dalam sebuah lemparan dadu, mekanik yang sudah menjadi candu jauh sebelum JKT48 didirikan. Kali ini kita akan mencoba menelisik apa yang bisa digali di semesta Dice Rolling, tentu saja terkait aplikasinya dalam tabletop game.

Dadu, dadu, dadu. Warna warni indah sekali. Image by dogandthimble.com

Dice Rolling 101

Mekanik Dice Rolling mungkin merupakan mekanik yang paling terkenal se jagat raya. Jika sampai saat membaca artikel ini kamu belum tahu bagaimana sebuah lemparan dadu dilakukan, tolong berhenti sejenak dan renungkan kembali arti hidupmu.

Sejarah Dice Rolling dimulai sejak manusia mulai tidak pede menghadapi simpangan hidup dan memilih menyerahkan nasibnya dengan melempar belulang persendian bernama knucklebones. Knucklebones bersisi empat inilah yang konon menjadi cikal bakal dadu modern. Meski begitu, knucklebones bukan satu-satunya media untuk menghadirkan elemen acak di masa lampau. Benda seperti stik kayu dan cangkang kerang diketahui juga digunakan seperti dalam Senet (3000 SM) dan Pachisi (400 M)

Pachisi (versi asli dari Ludo) menggunakan cangkang kerang sebagai randomizer. Photo by pachisi.co.in

Variasi Dice Rolling

Mekanik Dice Rolling sudah sangat solid dalam fungsinya sebagai mediator proses acak. Hampir tidak ada variasi berarti dalam sejarah lemparan dadu . Jika ada yang harus di-highlight mungkin adalah bagaimana Yahtzee (1956) membuat lemparan dadunya lebih stratejik dengan mengizinkan pemain menyimpan sebagian dadu dan melempar ulang sisanya. Varian ini kini dikenal sebagai Yahtzee-style dice roll yang banyak diadopsi permainan lain seperti King of Tokyo (2011) yang termahsyur.

Lemparan dadu dalam King of Tokyo (2011) menggunakan Yahtzee-style dice roll. Photo by theglassmeeple.com

Variasi dalam Dice Rolling lebih banyak dilakukan terhadap pemanfaatan hasil lemparan. Kingsburg (2007) dengan cerdik menyelipkan mekanik Worker Placement dengan memperlakukan hasil lemparan dadu sebagai worker untuk ditempatkan dalam 18 space yang tersedia. Yspahan (2006) mengelompokkan hasil lemparan sejumlah dadu berdasarkan angka, yang kemudian masing-masing kelompok dapat dipilih oleh pemain. Dice Rolling rasa drafting.

18 space tersedia dalam Kingsburg (2007). Photo by shutupandsitdown.com

Ada juga permainan yang menghadirkan cara nyentrik dalam melakukan lemparan dadu. Tumblin Dice (2004) mensyaratkan pemain untuk menyentil dadunya alih-alih melempar secara tradisional, sebuah selipan elemen dexterity dalam permainan dadu.

Tumblin Dice (2004), Dice Rolling dengan bumbu dexterity. Photo by thirstymeeples.co.uk

How it Works

Lemparan dadu berperan sebagai randomizer, titik. Daya tarik mekanik ini adalah elemen curiosity akan hasil lemparan, yang praktis diluar kontrol siapapun (kecuali dadunya dicurangi). Di sisi lain, dadu dilihat sebagai alternatif komponen untuk membuat permainan lebih singkat dan mudah. Karenanya banyak ditemui versi lite-remodel dari sebuah game dengan embel-embel The Dice Game, seperti Bang! The Dice Game, Ra : The Dice Game, dsb.

Jadi, sudah kepikiran mau bikin Dice Game apa?

*artikel ini pertamakali dimuat di portal boardgame.id tanggal 11 September 2015

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on Pinterest